Minggu, 08 Desember 2013

Begalan dalam Prosesi Nikah Orang Banyumas



Begalan dalam Bahasa Indonesia adalah perampokan. Dalam penyelenggaraan acara begalan dalam pernikahan merupakan salah satu tradisi di upacara pernikahan bagi anak perempuan pertama di Banyumas. Dengan maraknya pernikahan gaya modern, standing party, yang acapkali diselenggarakan di gedung mewah oleh orang Borjuis dan lemah budaya menjadikan prosesi begalan ini memiliki cita rasa tersendiri dan melegendaris dalam kearifan budaya Banyumasan.
Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Begalan berasal dari kata begal dan akhiran an, artinya perampasan atau perampokan di tengah jalan. Namun jangan diartikan perampokan dalam artian sebenarnya, begalan ini hanya merampas waktu kedua calon pengantin untuk memberikannya pelajaran/nasehat untuk bekal mereka dalam mengarungi hidup berumah tangga melalui pesan-pesan yang tersirat dalam ritual begalan ini. Dalam pementasan begalan,yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan si pembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Jumlah penari dua orang, seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur) yang bernama Gunareka, dan seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok yang bernama Rekaguna . Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Pembegal biasanya membawa pedang kayu yang bernama wlira.

Kostum pemain cukup sederhana, umumnya mereka mengenakan busana Jawa.
Adapun ketentuan dalam acara seni Begalan yaitu :
  1. Iringan yang digunakan menggunakakan instrumen gamelan jawa, sedangkan gerakan tarian disesuaikan dengan irama gamelan.
  2. Tarian Begalan dibawakan oleh dua orang pemain pria yang memerankan Gunareka dan Rekaguna.
  3. Dialog dengan gaya jenaka yang berisi tentang nasehat – nasehat penting bagi kedua mempelai dan penonton.
  4. Waktu pelaksanaan pada siang atau sore hari dan waktu yang dibutuhkan untuk pementasan kurang lebih satu jam.
  5. Tempat yang digunakan biasanya pelataran rumah (halaman) pengantin wanita.
Pada dasarnya Tari Begalan adalah tarian rakyat yang menggunakan peralatan – peralatan (Properti) yang memiliki makna simbolis yang berguna bagi kehidupan masyarakat pendukungnya. Dialog dengan gaya jenaka ditampilkan dalam pertunjukan seni untuk rakyat yang berfungsi untuk menghibur. Kostum atau tata pakaian dan riasannya juga sederhana karena begalan termasuk bentuk kesenian rakyat yang bersifat sederhana.
1. Kostum dan Make Up
Kostum yang dipakai sangat sederhana. Mereka hanya mengenakan pakaian adat Jawa saja. Pakaian yang digunakan untuk pementasan antara lain :
a. Pakaian seni Begalan terdiri dari :
b. Baju Kokok Hitam
c. Stagen dan Sabuk
d. Celana Komprang berwarna Hitam
e. Kain Sarung
f. Sampur atau Selendang menari
g. Ikat Wulung berwarna Hitam
Cara mengenakan pakaian, pertama – tama celana dan baju lalu kain yang diberi stagen dan ikat panggung. Jika tidak ada kain boleh menggunakan sarung. Sampur dikalungkan pada lehernya.Terkadang Gunareka memakai topi kukusan. Rekaguna membawa pedang wlira. Make up –nya sederhana. Dahulu mereka menggunakan langes atau arang yang dihaluskan kemudian dicampurkan minyak kelapa. Campuran berwarna hitam untuk merias muka, membuat kumis, jambang, alis dan lain-lain. Bahan lain yang diperlukan yaitu bedak dan teres (sepuhan).
2. Perlengkapan Begalan
Perlengkapan yang digunakan pada saat pentas seni Begalan :
  1. Pikulan atau mbatan
    Adalah alat pengangkat brenong kepang bagi peraga yang bernama Gunareka. Begal ini dari pihak pengantin pria atau kakung . Alat ini terbuat dari bambu yang melambangkan seorang pria yang akan berumah tangga harus dipertimbangkan terlebih dahulu, jangan sampai merasa kecewa setelah pernikahan sehingga k etika seorang pria mencari seorang calon isteri maka harus dipertimbangkan bibit, bobot, dan bebetnya.
  2. Pedang Wlira
    Adalah alat yang digunakan sebagai pemukul dengan ukuran panjang 1 meter, tebal 2cm, dan lebar 4cm. Terbuat dari kayu pohon pinang. Pedang Wlira dibawa oleh Rekaguna dari pihak pengantin wanita yang menggambarkan seorang pria yang bertanggungjawab, berani menghadapi segala sesuatu yang menyangkut keselamatan keluarga dari ancaman bahaya.
  3. Brenong Kepang
    Adalah barang – barang yang dibawa oleh Gunareka utusan dari keluarga mempelai pria berupa alat – alat dapur meliputi:
  • Ian merupakan alat untuk angi nasi terbuat dari anyaman bambu yang menggambarkan bumi tempat kita berpijak.
  • Ilir merupakan kipas yang terbuat dari anyaman bambu melambangkan seseorang yang sudah berkeluarga agar dapat membedakan perbuatan baik dan buruk sehingga dapat mengambil keputusan yang bijak saat sudah berumah tangga.
  • Cething adalah alat yang digunakan untuk tempat nasi terbuat dari bambu. Maksudnya bahwa manusia hidup di masyarakat tidak boleh semunya sendiri tanpa mempedulikan orang lain dan lingkunganya.Manusia adalah mahluk sosial yang butuh orang lain
  • Kukusan adalah alat untuk menank nasi yang terbuat dari anyaman bamboo berbentuk kerucut yang mempunyai arti kiasan bahwa seseorang yang sudah berumah tangga harus berjuang untuk menckupi kebutuhan hidup semaksimal mungkin.
  • Centhong adalah alat untuk mengambil nasi pada saat nasi diangi, yang terbuat dari kayu atau hasil tempurung kelapa. Maksudnya seorang yang sudah berumah tangga mampu mengoreksi diri sendiri atau introspeksi sehingga ketika mendapatkan perselisihan antara kedua belah pihak (suami dan istri) dapat terselesaikan dengan baik. Selalu mengadakan musyawarah yang mufakat sehingga terwujudlah keluarga yang sejahtera, bahagia lahir dan batin.
  • Irus adalah alat untuk mengambil dan mengaduk sayur yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Maksudnya ialah sesorang yang sudah berumah tangga hendaknya tidak tergiur atau tergoda dengan pria atau wanita lain yang dapat mengakibatkan retaknya hubungan rumah tangga.
  • Siwur adalah alat untuk mengambil air terbuat dari tempurung kelapa yang masih utuh dengan melubangi di bagian atas dan diberi tangkai. Siwur merupakan kerata basa yaitu, asihe aja diawur – awur. Artinya, orang yang sudah berumah tangga harus dapat mengendalikan hawa nafsu, jangan suka menabur benih kasih saying kepada orang lain.
  • Saringan ampas atau kalo adalah alat untuk menyaring ampas terbuat dari anyaman bambu yang memiliki arti bahwa setiap ada berita yang datang harus disaring atau harus hati – hati.
  • Wangkring yaitu pikulan dari bambu. Filsafatnya adalah di dalam menjalani hidup ini berat ringan, senang susah hendaklah dipikul bersama antara suami dan istri.

Mitoni (Slametan 7 Bulanan)



Description: Tumpeng Selamatan
UBO RAMPE MITONI/TINGKEBAN
(Selamatan Tujuh Bulanan)

Mitoni atau selamatan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan, sekalipun kurang sehari. Belum ada neptu atau weton (hari masehi + hari Jawa) yang dijadikan patokan pelaksnaan, yang penting ambil hari selasa atau sabtu.  Tujuan mitoni atau tingkeban agar supaya ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu).

PERSYARATAN :
1. Bubur 7 macam :
Kombinasi 7 macam; (1) bubur merah (2) bubur putih (3) merah ditumpangi putih, (4)  putih ditumpangi merah, (5) putih disilang merah, (6) merah disilang putih, (7) baro-baro (bubur putih diatasnya dikasih parutan kelapa dan sisiran gula jawa).
Bubur putih dimakan oleh sang Ayah. Bubur merah dimakan sang Ibu. Bubur yang lain dimakan sekeluarga.

Description: bubur7rupa

Bahan;
Bubur putih gurih (dimasak pake santen) dan bubur merah (dimasak pake gula jawa);
Bubur ditaruh di piring kecil-kecil;
2. Gudangan Mateng  (sayurnya direbus) :
Bahan ; Sayur 7 macam; harus ada kangkung dan kacang. Kangkung dan kacang  panjang jangan dipotong-potong, dibiarkan panjang saja. Semua sayuran direbus.
Bumbu gudangannya pedas.
3. Nasi Megono ; Nasi dicampur bumbu gudangan pedes lalu dikukus.
4. Jajan Pasar ; biasanya berisi 7 macam makanan jajanan pasar tradisional.
5. Rujak ; bumbunya pedas dengan 7 macam buah-buahan.
6. Ampyang ; ampyang kacang, ampyang wijen dll (7 macam ampyang). Apabila kesulitan mendapatkan 7 macam ampyang, boleh sedapatnya saja.
7. Aneka Ragam Kolo ;
Kolo kependem (kacang tanah, singkong, talas), kolo gumantung (pepaya), kolo merambat  (ubi/ketela rambat); kacang tanah, singkong, talas, ketela, pepaya. direbus kecuali pepaya. Pepaya yang sudah masak. Masing-masing jenis kolo tidak harus semua, tetapi bisa dipilih salah satu saja. Misalnya kolo kependhem; ambil saja salah satu misalnya kacang tanah. Jika kesulitn mencari kolo yang lain; yang penting ada dua macam kolo ; yakni cangelo; kacang tanah  +  ketela (ubi jalar).
8. Ketan ; dikukus lalu dibikin bulatan sebesar bola bekel (diameter 3-4 cm); warna putih, merah, hijau, coklat, kuning.
9. Tumpeng nasi putih; kira-kira cukup untuk makan 7 atau 11, atau 17 orang.
10. Telur ; telur ayam 7 butir.
11. Pisang ; pisang raja dan pisang raja pulut masing-masing satu lirang/sisir.
12. Tumpeng tujuh macam warna; tumpeng dibuat kecil-kecil dengan warna yang berbeda-beda. Bahan nasi biasa yang diwarnai.

TATA CARA
Tumpeng ditaruh di atas kalo (saringan santan yang baru). Bawahnya tumpeng dialasi daun pisang. Di bawah kalo dialasi cobek agar kalo tidak ngglimpang. Sisa potongan  daun pisang diletakkan di antara cobek dan pantat kalo.

Sayur 7 macam direbus diletakkan mengelilingi tumpeng, letakkan bumbu gudangannya melingkari tumpeng juga. Telur ayam (boleh ayam kampung  atau ayam petelur) jumlahnya 7 butir, direbus lalu dikupas, diletakkan mengelilingi tumpeng. Masing-masing telur boleh di belah jadi dua. Pucuk tumpeng dikasih sate yang berisi ; cabe merah, bawang merah, telur utuh dikupas kulitnya, cabe merah besar, tancapkan vertikal. (urutan ini dari bawah ke atas; lihat gambar).

Tusuk satenya dari bambu, posisi berdiri di atas pucuk tumpeng; urutan dari bawah; cabe merah besar posisi horisontal, bawang merah dikupas, telur kupas utuh, bawang merah lagi, paling atas cabe merah besar posisi vertikal.

Pisang, jajan pasar, 7 macam kolo, dan 7 macam ampyang ditata dalam satu wadah tersendiri, namanya tambir atau tampah tanpa bingkai yg lebar.
Tambirnya juga yg baru, jangan bekas. Tampah “pantatnya” rata datar, sedangkan tambir pantatnya sedikit agak cembung.
Tumpeng tujuh macam warna ukuran mini, ditaruh mengelilingi tumpeng besar. Boleh diletakkan di atas sayuran yang mengelilingi tumpeng besar.

Setelah ubo rampe semua selesai disiapkan, maka dimulailah berdoa. Doa boleh dengan tata cara atau agama masing-masing. Inilah fleksibilitas dan toleransi dalam ajaran Jawa.
Berikut ini contoh doa menurut tradisi Jawa;

Diucapkan oleh orang tua jabang bayi (ayah dan ibu);
“Niat ingsun nylameti jabang bayi, supaya kalis ing rubeda, nir ing sambikala, saka kersaning Gusti Allah. Dadiyo bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, migunani marang sesama, ambeg utama, yen lanang kadya Raden Komajaya, yen wadon kadya Dewi Komaratih..kabeh saka kersaning Gusti Allah.

Apabila orang tua beragama Islam, setelah doa secara tradisi, lalu bacakan surat Maryam atau surat Yusuf. Pilih di antara keduanya sesuai keinginan hati nurani. Jika feeling anda ingin membaca surat Maryam, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila yang dibaca  surat Yusuf, biasanya jabang bayi lahir laki-laki.

Dalam tradisi Jawa, yang membuat bumbu rujak dilakukan oleh ibu jabang bayi. Jika bumbunya rasanya asin, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila tidak kasinen (kebanyakan garam), biasanya lahir laki-laki.

Akan tetapi karna teknologi medis sudah sedemikian canggih, sampai ditemukan USG empat dimensi, jenis kelamin bayi sudah dapat diketahui lebih dini.

Acara mitoni atau tingkeban yang kami paparkan di atas adalah tatacara sederhana. Akan tetapi bukan berarti tidak absah, hanya tidak lengkap saja. Sedangkan tatacara yang lengkap yang biasanya masih dilakukan di kraton-kraton dan masyarakat Jawa yang masih kuat memegang tradisi. Rangkaian acara untuk upacara mitoni secara lengkap urut-urutannya yaitu;

Siraman, memasukkan telor ayam kampung di dalam kain calon ibu dilakukan oleh calon bapak, ganti baju tujuh kali,  brojolan (memasukkan kelapa gading muda), memutus benang lawe atau lilitan benang (atau janur), memecah wajan dan gayung, mencuri telor dan terakhir kendhuri.

Catatan;
Acara siraman hanya diselenggarakan untuk mitoni anak pertama.

Sabtu, 07 Desember 2013

Kancil lan Bulus

Ana bulus celathu marang kancil, tembunge : “ Aku ora maido, yen kowe pinunjul ing playu, kang ananging ayo ,padha balapan, sapa kang ndhisiki tekan wekasaning ara-ara iki.”
Tembung mangkono iku ingatase si kancil padhane angecemong, ewadene pangajake mau di rasa aneh, mulane dituruti.
Nuli bulus enggal miwit lumayu, kancil ngenakake dhedhe, ciptane : “ si gumremet kareben mempis  - mempis, aku wus mesthi ora rekasa bisa anjujul, aku mencolot ping telu utawa ping pat bae, wus tamtu bisa nglancangi kewan nglemer kuwi” saya adoh olehku ngaceki aya ndadekake kocapku.
Ing nalika samana bulus meh tekan ing wates. Kancil isih sareh  ing sawatara, bareng tumandang arep anjujul , weruh yen meh kasep awit dening talompene, ewadene isih anduweni pangarep – arep menang sarana cukating lumpate.
Enggal lumayu rikate prasasat angin, ananging tanpa gawe, awit bulus wus ndhisiki tekan wekasaning ara-ara, dadi kancil kalah.
Eliding dongenge mangkene : wong iku sanajan terang budine, elingana, tuwin titis ing ciptane yen ora tengginas ing samubarang gawe, mesthi kedhisikan ing liyan, iku kang amek kauntungane.

Dipethik saka : Layang Sato Kewan, CF Winters

Tegese  tembung :
pinunjul              = linuwih, luwih saka pepadhane
ara-ara              = palemahan jembar kang ora ditanduri
ngecemong        = angger ngomong
ewadene            = sanadyanta
ngenakake         = ngenak-enak , tumindak sakarepe
dhedhe              = kekaring ing panasan
gumremet          = mlaku sing rindhik banget.
nglemer             = ora cukat tandang tanduke
kacek                = ora padha, beda
talompe             = tlompe, randhat, remben
cukat                 = trengginas, sarwa rikat tandang tanduke.
budi                   = 1. pikir, nalar   2. golek, ngrekadaya   3. watak     4. polah arep oncat, ora manut
budi arda           = kekarepam
terang budine     = terang nalare, pinter.
amek                 = 1. njupuk 2. golek.

Sumber :
http://corojowo.blogspot.com/search/label/08%20DONGENG%20BOCAH

Jumat, 06 Desember 2013

Pelajaran Basa Jawa Diilangi, Aksara Jawa Bakale Ilang


          Solo_ Pelajaran  Basa Jawa bakal diilangi saka pelajaran SD, SMP, lan SMA ing kurikulum 2013 gawe khawatir bakal ilange Aksara Jawa. Sebab salah siji cara nglestarekake Aksara Jawa yaiku nglebokake Basa Jawa ing kurikulum sekolah.
          Peneliti budaya Jawa lan Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS). Arif Hartata  matur, Bahasa Jawa bisa mujudake pola sikap lan pola pikiran menungsa. “Basa Jawa kuwi sugih dhewe nalika digoleki panggonane, ana tahapan Basa Jawa yaiku Basa Jawa kuna, Basa Jawa tengahan, lan dadi Basa Jawa anyar. Ana krama inggil, jawa ngoko lan kuwi ndudohake anane tata krama manungsa,”Jarene. Nyawang ragam perkembangane basa Indonesia sing wis dadi tren ing kalangan padhusunan malah gawe lunture basa daerah.  Kenyataane tiyang padhusunan kulina nganggo Basa gaul minangka Basa saben dinane. Miturut Arif bisa ngakibatake dekontruksi ing dialek basa. “nalika Basa Jawa diilangi ing kurikulum 2013, menungsa bakal kilangan jati dirine minangka dadi wong Jawa. Saiki ana ing pendidikan formal wae akeh siswa sing ora bisa nulis aksara Jawa utawa nerapake Basa Jawa sing bener” jarene lulusan S2 kajian Budaya UNS. Arif nambahake, basa kuwi yaiku unsure saka budaya sing prelu dilestarekake amarga kewajiban menungsa lan direwangi pihak Pemerintah Kota (PemKot). Nandur rasa seneng budaya kawit cilik karo ngenalake basa utawa budaya daerah, ing jero pendidikan formal minangka solusi sing apik . “Kudune kebijakan pemerintah lan lembaga-lembaga pendidikan melu mbantu lan peduli karo kelangsungane basa daerah lan budaya, amarga kuwi gawe dampak ing rusake Aksara Jawa. “Jarene.